Dear Bima,
Kurasa kita harus bicara! Walaupun bukan dari rahimmu terlahir tapi aku cinta padamu. Engkau cukup memberi guratan – guratan penting dalam perjalanan hidupku. Jika bukan karena engkau, mungkin aku tidak akan pernah berani meninggalkan zona nyamanku. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku tidak akan pernah berani mengambil keputusan terbesar dalam hidupku – bertanggung jawab sebagai kepala keluarga. Jika bukan karena dirimu, mungkin aku tidak akan pernah belajar tentang suatu rasa ketika integritas diri diragukan dan didiskreditkan berdalih religi. Membuatku semakin dewasa dan mawas diri dalam berpikir.
Yah… bagaimanapun aku tetap cinta padamu. Aku suka dengan sengatan kasar alammu dan dinamika para insan yang menghunimu. Tetapi melihatmu hari ini, entah perumpamaan apa yang cocok untukmu – seorang kakek tua yang kolot atau perawan tua yang cari perhatian. Engkau begitu sensi dan defensif dan dengan mudahnya meledak. Dan hari ini kulihat dirimu begitu murka. Sebulan lalu dirimu cukup menghebohkan negeri ini dengan pertempuran kecil ala zaman koboi di ujung timur pelabuhanmu dan tiga insan meregang nyawa. Continue reading

















